Tugas Pengurus Baru Angkatan 2010/2011 TEATER ANTARIKSA

Posted in Uncategorized on 7 September 2010 by teaterantariksa

TUGAS TEATER ANTARIKSA

2010/2011

TUGAS 1 (*6)
a) apa yang perlu diperbaiki dari angkatan dan kepengurusan 2009-2010
b) apa kelebihan angkatan kalian dibanding angkatan 2009-2010
NB: ditulis dalam 1 double folio (penuh)
dikumpul tanggal 12 September 2010

TUGAS 2
Tulis karakter angkatan teman-teman kalian
NB: diketik rapi, minimal 3 hal (font 11, times new roman, kertas A4, margin 2,5 )
Dikumpul tanggal 8 September 2010
Tugas ini untuk semua anak-anak kelas 2

TUGAS 3 (*6)
Buatlah rangkuman wawancara dengan :
1. Mas Ruscita Dewi
2. Warih Wisatsana
3. Gus martin
4. Tan Lioe
5. Mbak Ita
6. Moch Satrio Welang
NB : wawancara harus direkam dan ada foto kalian bersama beliau (soft copy)
Wawancara juga dirangkum (diketik rapi)
Tugas dikumpul pada tanggal 12 September 2010

TUGAS 4
Buat sebuah pementasan (bebas boleh pementasan apa saja)
NB; tugas direkam
Tugas ini untuk seluruh anggota Teater Antariksa kelas 2
Tugas dikumpul menggunakan CD / soft copy
Tugas dikumpul tanggal 19 September 2010

TUGAS 5
Buat sesuatu yang menunjukkan kecintaan kalian terhadap Teater Antariksa yang berhubungan dengan seni pran/teater.
NB; Tugas ini untuk seluruh anggota Teater Antariksa kelas 2
Dikumpul pada tanggal 21 September 2010

NB: setiap tugas harus berisi lambang TEATER ANTARIKSA

SELAMAT BEKERJA

“tak ada yang tak bisa dilakukan manusia di dunia ini selama masih dibawah anugerah-NYA”

B I S A

PESTA SASTRA

Posted in Uncategorized on 15 Juli 2010 by teaterantariksa

_pesta sastra_

akhirnya, setelah tahun kemarin sukses diadakan nya Olimpiade Sastra, tahun ini akan lahir perlombaan yang bernama Pesta Sastra . Masih dalam satu payung BALAI BAHASA DENPASAR , kali ini ada 4 macam yang di perlombakan . Diantaranya :

v Menulis Puisi

v Dramatisasi Puisi

v Menulis Cerpen

v Musikalisasi Puisi

Tujuan pesta sastra ini dimaksudkan untuk memberkan motivasi bagi siswa dan sekolah untuk meningkatkan minat dan apresiasina terhadap sastra.

kegiatan ini ditujukan bagi para siswa dan siswi SMA dan SMK se- Bali pada umur 13-19 tahun.

  1. Lomba Menulis Puisi

– persyaratan :

  • naskah harus asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikuti dalam lomba yang lain.
  • puisi menggunakan bahasa Indonesia
  • Tema bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA
  • Naskah diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman font 12 pada kertas A4 dan tidak bolak-balik.
  • panjang satu puisi maksimal dua halaman.
  • peserta boleh mengirimkan naskah lebih dari satu
  • naskah harus dilampiri pasfoto terakhir ukuran 3×4 dan surat keterangan dari sekolah
  • peserta harus menyertakan alamat dan nomor telepon dengan jelas agar mudah dihubungi
  • naskah yang masuk ke panitia menjadi milik panitia
  • pendaftaran gratis, ditutup 24 juli 2010
  • naskah dikirim per pos atau diserahkan langsung kepada panitia Pesta Sastra SMA/SMK 2010 Balai Bahasa Denpasar, sebanyak 4 eksemplar

– hadiah :

juara 1 : Rp. 2.500.000,00

juara 2 : Rp. 2.000.000,00

juara 3 : Rp. 1.500.000,00

tiga harapan : Rp. 500.000,00

2. Lomba Dramatisasi Puisi

– persyaratan

  • peserta wajib menyerahkan puisi yang akan di dramatisasikan ke panitia
  • peserta merupakan kelompok maksimal terdiri atas 10 orang dan wajib mendaftarkan kelompok dengan melampirkan surat keterangan dari sekolah
  • setiap peserta menampilkan satu naskah puisi (indonesia/bali) dengan tema bebas
  • setiap sekolah mengirimkan 1 tim
  • naskah puisi diserrahkan ke panitia pada saat pendaftaran
  • pendaftaran tidak dipungut biaya, ditutup 24 juli 2010
  • pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan 31 juli 2010 di balai bahasa
  • lomba diselenggarakan di RRI denpasar tanggal 4-5 agustus 2010

– hadiah :

juara 1 : Rp. 3.500.000,00

juara 2 : Rp. 3.000.000,00

juara 3 : Rp. 2.500.000,00

tiga harapan : Rp. 750.000,00

3. Lomba Menulis Cerpen

– persyaratan

  • naskah harus asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikuti dalam lomba yang lain.
  • cerpen menggunakan bahasa Indonesia
  • Tema bebas, tidak mengarah pada pornografi, dan tidak berpotensi menimbulkan konflik yang berkaitan dengan SARA
  • Naskah diketik rapi dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman font 12 pada kertas A4 dan tidak bolak-balik.
  • panjang satu cerpen maksimal delapan halaman.
  • peserta boleh mengirimkan naskah lebih dari satu
  • naskah harus dilampiri pasfoto terakhir ukuran 3×4 dan surat keterangan dari sekolah
  • peserta harus menyertakan alamat dan nomor telepon dengan jelas agar mudah dihubungi
  • naskah yang masuk ke panitia menjadi milik panitia
  • pendaftaran gratis, ditutup 24 juli 2010
  • naskah dikirim per pos atau diserahkan langsung kepada panitia Pesta Sastra SMA/SMK 2010 Balai Bahasa Denpasar, sebanyak 4 eksemplar

– hadiah :

juara 1 : Rp. 2.500.000,00

juara 2 : Rp. 2.000.000,00

juara 3 : Rp. 1.500.000,00

tiga harapan : Rp. 500.000,00

4. Lomba Musikalisasi Puisi

– persyaratan

  • peserta merupakan kelompok yang maksimal terdiri atas 7 orang dan wajib mendaftar dengan surat keterangan dari sekolah
  • naskah puisi disediakan oleh panitia
  • masing-masing peserta membawakan 2 puisi(satu berbahasa indonesia satu berbahasa bali)
  • setiap sekolah mengirimkan maksimal dua peserta
  • setiap peserta dipungut biya pendaftaran sebesar Rp 30.000,-
  • tempat pendaftaran SMA N 8 Denpasar
  • pendaftaran ditutup 24 juli 2010
  • pertemuan teknis dan pengambilan nomor undian dilaksanakan 31 juli 2010 di balai bahasa
  • lomba diselenggarakan di RRI denpasar tanggal 3-4 agustus 2010
  • info lebih lanjut : CP : igusti ketut tribana (0361) 7423732

Yesa : 0817359237
Nanda : 08563807676

– hadiah :

JUARA 1

JUARA 2

JUARA 3\

sekolah yang memenangi lomba terbanyak akan ditetapkan sebagai juara umum .

Semua Penyerahan Hadiah Bagi Pemenang Lomba Dilaksanakan Tanggal 5 Agustus 2010 Di RRI Denpasar

BURUAN DAFTAR !! terakhir tanggal 24 juli 2010 ….

nyesel berat kalo ga ikut …. hayoo berPESTA SASTRA …………….

” semua belum berakhir saudara ! “

Posted in Uncategorized on 16 Mei 2010 by teaterantariksa

Bunga Tanpa Nama,, merupakan puisi ciptaan dari Gede Adi W. yang biasa akrab disapa kak Gede ini kembali menjadi lagu pilihan andalan Teater Antariksa dalam lomba Musikalisasi Puisi kebangsaan tingkat SMA/K se – Bali tertanggal 16 Mei 2010 di DISDIKPORA pagi tadi. Lagu wajib Kerawang Bekasi ciptaan chairil anwar yang dipilih oleh panitia lomba juga dibawakan dengan semangat nasionalis oleh anak-anak teater antariksa ini.

Mereka adalah Dwi Yulia Sari, Lydia Damara dan Deny Suartama P. yang dipasang sebagai penyanyi atau vokalis,, Chandra Wahyudi dan Pasek sebagai pemain gitar dan Riska Darma pembaca puisi.

Dalam berproses, sangat banyak terdapat kendala untuk mencapai hasil ini. Terutama dalam permasalahan waktu yang sangat mendesak para pemain untuk kerja ekstra yang diselingi hari raya galungan (12/5). Ayu Dwi Darmayanti yang ditunjuk sebagai pimpinan produksi ini juga cukup kerepotan dalam mengatur jadwal latihan serta mengatur perlengkapan, dan teknis acara. Tetapi itu semua tidak mematahkan semangat Chandra Wahyudi dkk untuk latihan dan terus latihan. Semua juga tidak lepas dari peran SC kita Yudha Andyka yang sudah memberikan bantuan dalam membuat atau mengaransmen lagu kerawang bekasi,  dan teman-teman lain yang selalu hadir memberikan suport.

Alhasil, pengumuman pun dibacakan. Dengan total nilai 280 sebagai juara 1 jatuh di tangan teater Limas. Kemudian 270 sebagai juara 3 di tangan teater Lajose. Selanjutnya dengan nilai 273 berada di tangan Teater Antariksa sebagai juara 2..

Rasa bangga pun mulai melekat di hati setiap anggota. Walaupun masih berada di posisi kedua, namun mereka yakin akan merebut posisi pertama suatu saat nanti. Semangat itu dikobarkan di depan gedung aula disdikpora se usai penerimaan piala, piagam, doa bersama, dan foto bersama.

selanjutnya ,,

1    ,     2   ,     3,

ANTARIKSA KEYY !!!

semua belum berakhir. masih ada jalan untuk orang-orang yang ingin berusaha . !

kita akan melangkah lagi esok hari sobat.

jangan terlalu larut akan kepuasan dengan keadaan yang ada,

kita masih harus belajar .. !

trims buat semua,

antariksa         key ..!


perkembangan teater SMA di Denpasar

Posted in Uncategorized on 3 Mei 2010 by teaterantariksa

Perkembangan Teater SMA di Denpasar saat ini sedang dalam keadaan panas. Jika tahhun lalu, teater SMA penuh dengan kegiatan lomba dan sejenisnya,kini saatnya teater SMA mulai bangkit menunjukkan keberadaannya di masyarakat luas dengan mengadakan berbagai aktifitas selain mengikuti event lomba. Beberapa teater diantaranya yang ada, mulai berfikir untuk membuat suatu pementasan atau acara Teater yang tentunya bertujuan positif. Semua itu dilakukan berdasarkan aspirasi dari masing” anggota teater mereka

Cara Menulis Naskah Drama

Posted in Uncategorized on 3 Mei 2010 by teaterantariksa

Anda mau menulis naskah drama dengan baik. Ada beberapa metode yang bisa Anda gunakan dalam membuat naskah drama. Namun, pada bagian ini saya ingin memnberi Anda sebuah tulisan yang ditulis oleh Putu Wijaya untuk dijadikan sebuah referensi Anda dalam membuat naskah drama. Tulisan ini bagus untuk dibaca.

Putu Wijaya

KIAT PENULISAN LAKON

Untuk menyusun naskah lakon, yang diperlukan mula-mula adalah gagasan. Tidak semua hasrat atau keinginan adalah sebuah gagasan. Gagasan atau ide dalam menulis lakon, adalah hasil perenungan dan pemikiran.. Dalam hubungan dengan kerja kreatif, gagasan atau ide adalah apa yang biasa disebut “inspirasi”.
Kita hindari istilah inspirasi atau ilham untuk sementara, karena apa yang disebut ilham sering dihubung-hubungkan dengan karunia Tuhan. Akibatnya banyak orang terkecoh lalu hanya menunggu untuk mendapatkannya. Padahal semua yang ada di dunia ini adalah karunia Tuhan. Yang disebutkan dengan gagasan di sini adalah hasil perenungan, hasil pemikiran, hasil kontemplasi. Bahkan mungkin hasil diskusi dan rembugan-rembugan, baik dengan diri sendiri, denganm orang lain atau pemahaman kebenaran yang lain.
Di dalam gagasan ada sesuatu yang baru, yang berbeda, yang lain dari yang sudah ada dikenal. Itulah yang menyebabkan seorang penulis lakon perlu melahirkan, mendeklarasikannya, agar dikenal oleh orang lain. Apakah gagasannya bagus dan berguna atau sebaliknya, sangat tergantung pada benturannya dengan sekitar setelah lahir sebagai lakon.

Jadi gagasan, walau pun merupakan cakal-bakal, tetapi yang kemudian menentukan adalah pengembaraannya sebagai naskah. Untuk itu diperlukan ketrampilan untuk mewujudkan gagasan itu menjadi lakon yang baik. Lakon yang baik, bukan saja gagasannya bagus, tetapi juga memenuhi persyaratan sebagai sebuah lakon, yakni punya daya pukau sebagai tontonan.

Tema adalah wilayah yang menunjuk, sudut kehidupan yang mana yang akan digarap. Ke dalam tema yang menjadi flatform dari naskah itu kemudian dipancangkan gagasan yang merupakan hasil pemikiran penulisnya. Lalu dicari batang tubuhnya berupa cerita.

Cerita tidak selamanya berjalan lurus, runtun. Dapat acak, sama sekali tanpa aturan atau kacau, sehingga nyaris bukan cerita tetapi hanya suasana-suasana. Cerita yang bertutur membuat lakon menjadi potret atau representasi kehidupan. Yang tidak bertutur, adalah pemikiran, sikap dan rumusan-rumusan yang mengandung nilai-nilai yang dipakai dalam menghadapi fenomena-fenomena kehidupan yang baru.

Dalam membangun cerita akan muncul berbagai kebutuhan terhadap: waktu, tempat, tokoh-tokoh, kemudian alur, plot, konflik dan sebagainya. Juga akan timbul masalah-masalah teknis yang mungkin akan dijumpai dalam pelaksanaannya, sehingga penulis mesti memikirkan jalan keluarnya. Sedangkan untuk rumusan-rumusan nilai yang diperlukan adalah statemen-statemen tajam yang menggugah yang sering berbau pemberontakan dan pembaruan, agar lebih menggigit.

Terakhir adalah pesan moral. Muatan apa yang mau disampaikan oleh penulis, baik secara langsung maupun tak langsung. Watak, idiologi, pandangan hidup, filosofi penulis naskah dapat dibaca dari isi pesan moral dan cara menyampaikannya. Naskah yang tak memiliki pesan moral pun adalah sebuah pesan moral.

Seperti dalam proses pembuatan bangunan, penulis adalah seorang arsitek sekaligus pemborong proyek. Ia berpikir tentang konstruksi bagaimana membuat sesuatu yang kuat dan indah. Ia memikirkan dengan cermat wujud naskah itu.

Bila gagasannya memerlukan wadah besar yang spektakuler, berarti naskah itu akan terdiri dari banyak babak sehingga durasinya sampai beberapa jam. Atau sudah cukup satu babak, sekitar satu jam, sehingga padat dan tajam. Di sini seorang penulis menentukan strategi dan konsepnya.

Konsep adalah strategi untuk menerapkan gagasan. Inilah pergulatan yang sebenarnya bagi setiap penulis lakon: bagaimana memindahkan gagasannya menjadi sebuah tontonan. Untuk itu ia harus memahami benar seluk-beluk seni pertunjukan. Ia perlu menguasai teknik-teknik penulisan, sehingga ia bebas untuk menuangkan gagasannya. Ia tidak terhalang oleh persoalan-persoalan teknis, sehingga konsentrasinya pada usaha menuangkan ide tidak terhambat.

Di dalam menuangkan gagasan menjadi lakon juga diperlukan “gagasan-gagasan”. Jadi bukan hanya isi, kemasan lakon pun harus memberikan “gigitan”. Bentuk, struktur, cara menyampaikan pesan, bahasa, gaya, jenis tontonan yang hendak dicapai, semua itu bukan hanya sekedar alat, tetapi bisa menjadi isi itu sendiri. Bahkan pesan yang klise dan sangat sederhana, tentang pengorbanan, misalnya, bisa menjadi baru karena cara menyampaikannya berbeda dari apa yang biasa dilakukan.

Naskah yang menggigit baik isi maupun kemasannya disebut “berdarah” atau “memiliki daya tendang”. Artinya lakon itu tidak hanya sekedar bualan kosong. Bukan semata-mata memukau karena pasang surut ceritanya. Tetapi karena mengandung sesuatu yang benar-benar penting, jitu atau baru. Pengemasan yang pas, tajam atau unik membuat naskah itu punya nilai lebih. Unsur pembaruan menyebabkan isinya yang sebenarnya biasa, bisa menjadi luar biasa.

Mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, umumnya dicapai dengan melakukan penggalian dan pendalaman. Persoalan cinta biasa antara dua remaja, bila digali lebih mendalam lagi, dimunculkan kompleksitasnya, tiba-tiba menyeruak menjadi masalah kemanusiaan yang universal. Cerita Romeo Dan Juliet karya Shakespearre , misalnya, bukan hanya masalah percintaan tetapi menampilkan masalah-masalah mendasar kemanusiaan.

Cara lain adalah dengan menukar sudut pandang. Sebuah pembunuhan dalam negara hukum akan berakhir dengan terhukumnya pembunuhnya. Tetapi dengan menggeser sudut pandang, pembunuh itu bukan dipenjarakan, tapi malah dinobatkan menjadi pahlawan. Kenapa? Sebab pembunuh itu sudah berhasil menggoyang hukum yang tidur untuk beringas dan aktip kembali menegakkan keadilan.

Sudut pandang adalah bagian penting di dalam apa yang semula kita sebut gagasan. Diperlukan keberanian dan juga kejujuran untuk memandang sesuatu keluar dari kebiasaan umum. Tujuannya bukan hanya sekedar keluar, bukan hanya untuk berbeda, tetapi karena ada keyakinan, bahwa dengan mampu melihat dari sudut pandang yang lain, kebenaran lebih terburai atau muncrat.

Bila sebuah lakon tak hanya menghibur, tak hanya menarik, tapi dapat membawa penonton pada kebenaran yang lain, dia menjadi penting. Naskah tidak hanya akan menjadi sebuah persiapan untuk sebuah pementasan, tetapi pengetahuan dan pencapaian kultural. Sebagaimana yang terjadi pada “Waiting For Godot”. Karya Samule Beckett yang memenangkan hadiah nobel itu adalah sebuah penemuan yang fenomenal. Beckett mencatat bahwa di samping lahir dan mati, pada hakekatnya semua manusia adalah menunggu.

Gagasan yang bagus dapat hancur berantakan apabila tidak terkemas dengan baik. Karena itu sebelum menulis lakon, seseorang harus mengenal dulu teknik penulisan lakon. Umumnya pengemasan lakon memerlukan beberapa unsur yang membuat hasilnya pas sebagai tontonan. Karena untuk itulah lakon dibuat. Lakon yang ditulis hanya untuk dibaca biasa disebut drama “kloset”.

Sebagai tontonan, lakon harus memikat. Cerita akan memikat kalau memiliki plot. Plot akan memukau bila mengandung empathi. Empathi akan menjadi sempurna kalau dibumbui dengan ketegangan, konflik dan humor. Ada juga yang menyelipkan kritik-kritik sosial, konteks dari lingkungannya, sehingga lakon menjadi membumi dan memiliki komitmen sosial.

Naskah lakon dibuat untuk kemudian dipentaskan sebagai pertunjukan. Kemungkinan-kemungkinan tontonan yang ada di dalam naskah itu menjadi penting. Kemungkinan tersebut ada yang sudah dicantumkan secara tertulis oleh penulisnya, tapi ada juga yang lahir akibat persentuhan dengan sutradara dan pemain. Semakin banyak kandungan kemungkinan yang ada dalam sebuah naskah, membuat naskah itu semakin kaya.

Sebuah naskah lakon yang kaya memberikan kesempatan kepada sutradara, pemain serta penata artistik mengembangkan lakon itu sehingga ia menjadi seperti tambang emas yang tak habis-habisnya digali. Di dalamnya juga termasuk ruang-ruang yang diberikan kepada penonton. Naskah yang bagus akan membuat penonton tak hanya penikmat yang pasif. Penonton akan hidup dan ikut mencipta di dalam imajinasinya, sehingga pertunjukan benar-benar merupakan sebuah dialog gencar antara tontonan dengan penonton sehingga menciptakan pengalaman spiritual.

Sebuah naskah lakon yang baik akan menciptakan pengalaman batin yang membuat penonton mengalami ekstase. Naskah yang kuat memberikan rangsangan kreatif pada semua yang terlibat di dalam pementasan. Baik naskah standar yang konvensional atau naskah kontemporer yang multi iterpretasi, kalau ia berdarah, mengandung kekayaan sebagai seni pertunjukan, ia tidak akan bersifat temporer, tetapi abadi. Naskah lakon yang baik tetap berdarah di segala zaman dalam konteks dan referensi yang berbeda-beda. Setiap kali dipentaskan ia akan mentransformasikan dirinya menjadi aktual dan baru.

II.CATATAN DARI LAPANGAN

Berikut catatan dapur saya di lapangan untuk perbandingan:

Saya menulis lakon sejak saya masih SMA. Tetapi lakon-lakon itu masih merupakan ,ide-ide mentah yang belum disentuhkan dengan pengalaman lapangan. Naskah-naskah yang saya tulis adalah drama kloset. Drama yang hanya untuk dibaca, miskin dari kemungkinan pemanggungan.

Setelah saya mulai main drama (Badak:Anton Chekov, Barabah:Motinggo Boesye dan Selamat Jalan Anak Kufur:Utuy Tatang Sontany, Pelacur:Sartre), baru saya memahami hubungan naskah dengan pementasan, memahami hubungan naskah dengan penonton. Sejak itu saya mulai menulis naskah di Jogja tidak lagi untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Dalam periode itu saya menulis Bila Malam Bertambah Malam, Dalam Cahaya Bulan (1964). Kemudian Lautan Bernyanyi (1967), Tak Sampai Tiga Bulan (1965), Orang-Orang Malam (1966). Semuanya ditulis dan kemudian saya mainkan.

Pada tahun 1966, ketika membuat parade drama di gedung BTN Jogja, saya melakukan monolog spontan berjudul Matahari Yang Terakhir. Berlangsung bagus. Sesudah main baru naskahnya dituliskan. Menjadi lebih jelas lagi bahwa lakon ditulis bukan untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Kini saya sering memainkan monolog lebih dahulu dan sesudahnya baru ditulis. Misalnya Merdeka dan Zmar.

Setelah menulis naskah untuk kebutuhan pementasan, saya ikut pementasan Waiting For Godot (1969) Bengkel Teater, bermain sebagai Pozzo. Terpengaruh oleh naskah itu, antara tahun 1971 s/d 1980 saya mulai menulis naskah untuk berekspresi. (Aduh, Edan, Anu, Dag-Dig-Dug, Hum-PimPah). Kecuali Dag-Dig-Dug, semuanya juga saya mainkan dengan Teater Mandiri di Jakarta.

Pada tahun 1975 dan 1976 saya membuat pementasan tanpa memakai naskah (Lho, Entah, Nol). Tidak ada cerita. Yang ada hanya suasana dan gambar-gambar. Pementasan Lho yang dipersiapkan selama 4 bulan, sangat visual, mengagetkan penonton dan mendapat sambutan bagus sekali. Pengunjung sampai membludak selama 3 hari di Teater Arena TIM. Tetapi pementasan selanjutnya penonton menipis dan akhirnya sangat kurang waktu NOL. Waktu itu saya menyimpulkan yang dibutuhkan oleh penonton adalah cerita. Saya kembali kepada kata-kata.

Setelah itu saya kembali membuat naskah yang penuh kata-kata untuk pementasan (Dor, Blong, Awas, Los, Gerr, Zat, Tai, Front, Awas, Aib, Wah). Di dalamnya ada cerita, karakter dan konflik. Tetapi saya tidak berkiblat kepada realisme. Teater saya cenderung menjadi teater seni rupa.

Pada 1985 – 1988, saya berada di Amerika dan membuat naskah, hanya untuk membuat naskah (Aeng, Aut, Jreng-Jreng-Jreng, Bah, Hah). Naskah-naskah itu sampai sekarang belum pernah saya pentaskan.

Pada 1991 s/d 2003 saya sama sekali tidak membuat naskah dan hanya melakukan pementasan-pementasan (Wesleyan, New York, Cal Art, Seatle, Brunai Darusssalam, Tokyo, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Kyoto, Hamburg, Cairo) tanpa naskah (Yel, Yel II, Bor, The Coffin is too Bif for The Hole, War, Zoom, Zero). Saya membuat sekumpulan monolog yang terhimpun dalam buku DAR-DER-DOR.

Sejak 2003 saya mulai lagi menulis dan memainkan monolog (Kemerdekaan, Demokrasi, Mulut, Merdeka, Memek, Perempuan, Pahlawan, Surat Kepada Zetan, Zmar) selanjutnya sejak 2004 saya kembali menulis lakon untuk pementasan (Jangan Menangis Indonesia, Zetan, TVRI). Dalam perjalanan saya sebagai penulis, gagasan yang ada dalam setiap naskah terlahir didorong oleh beberapa kebutuhan. Pertama kebutuhan untuk memiliki naskah sendiri. Dengan naskah sendiri kebebasan mengembangkan tontonan akan lebih leluasa. Di samping itu selesai pementasan, hasilnya akan tetap ada berupa naskah. Jadi sekali kerja dua hal tercapai.

Kebutuhan lain yang mendorong adalah hasrat untuk berekspresi, berdialog dengan penonton, memberikan kesaksian-kesaksian yang personal tentang kejadian di sekitar. Saya merasa punya sudut pandang yang lain dengan umumnya pandangan di sekitar. Tak ada maksud untuk memenangkan pandangan sendiri, hanya ingin berbagi, mengutarakan kepada masyarakat bahwa perbedaan itu harmoni yang dinamis.

Yang juga mewarnai gagasan itu adalah kompromi terhadap kondisi pemain, keadaan sarana serta keterbatasan biaya produksi yang semuanya kemudian membentuk sikap dasar saya dan Teater Mandiri (berdiri tahun 1971 di Jakarta) untuk berkiblat pada : Bertolak Dari Yang Ada. Yakni usaha untuk memanipulasi kekurangan menjadi kekuatan dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki. Dengan cara itu tak ada yang tak mungkin dalam setiap produksi.

Pemain-pemain saya sebenarnya bukan pemain tapi orang-orang biasa. Mereka bukan aktor. Ada tukang sapu dan maling kecil yang tak bisa membaca. Orang cacad. Ibu rumah tangga. Bahkan pernah suami-sitri pemulung ikut dalam produksi ( Kasan dan Kamisah dalam lakon Anu, 1974) Keterlibatannya pada teater hanya karena senang. Keterbatasan mereka yang juga membatasi produksi, saya balikkan menjadi kekuatan, sejak dari pembuatan naskah. Naskah saya buat sesuai dengan potensi mereka.

Saya sangat terganggu dengan tidak adanya desiplin dan komitmen dalam berlatih. Para pemain jarang datang lengkap dan selalu merepotkan jadwal. Akhirnya saya menulis naskah yang membuat pemain sekali masuk ke dalam adegan, untuk seterusnya tidak bisa keluar sampai lakon berakhir. Ini yang membuat saya sampai ke naskah-naskah yang mengetengahkan kelompok manusia sebagai sebuah karakter. Struktur itulah yang menjadi formula semua naskah yang saya buat sampai 1989.

Pesan moral yang saya pegang dalam setiap pembuatan naskah adalah usaha untuk melakukan “teror mental”. Upaya untuk mengganggu, membangunkan, mengingat, membimbangkan, menggoda, menteror batin penonton. Tujuannya agar penonton terbangun, tergugah dan berpikir lagi setelan mendusin dari tidurnya.

Saya lihat akibat berbagai macam bentuk penjajahan (politik, ekonomi, sosial, budaya), banyak orang setelah membuat keputusan tidak mau berpikir lagi. Banyak orang karena dibius oleh sesuatu yang dahysat ( idiologi, paham, agama, kecendrungan, pendapat, ilmu) mengunci dirinya dalam satu kesimpulan yang membuat ia seperti mati dalam kehidupan. Banyak manusia menjadi mummi. Saya ingin mengajak ia bimbang dan memikirkan lagi posisinya, tetapi tanpa berusaha untuk mempengaruhinya. Buat saya kebimbangan adalah suci.

Karena pesan moral itulah saya mengawali setiap naskah dengan langsung menggebrak. Dan kemudian mengakhirinya dengan mengambang. Tak ada kesimpulan. Kesimpulkan yang terbuka. Pertanyan berakhir sebagai pertanyaan. Pertanyaan, jawabanya pertanyaan yang lain. Lakon adalah sebuah PR kepada setiap penonton yang mengajak mereka berdialog dan kemudian mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya sendiri.

Saya tidak memberikan banyak petunjuk di dalam naskah (yang saya lakukan juga dalam membuat skrip film) karena berharap mereka yang membaca/mempergunakan naskah itu akan melakukan penafsiran. Saya mengambil posisi, saya sendiri belum tentu lebih tahu tentang naskah itu dari penggunanya. Karenanya naskah-naskah itu mengapung, bersifat multi interpretasi. Dapat dimaknakan ke mana saja, tergantung pembaca, pelaku atau penontonnya.

Maksud saya untuk memberikan ruang kepada sutradara. Tetapi hasilnya agak menyedihkan, karena kebanyakan penggunanya kemudian mempergunakan seenak perutnya. Di samping itu naskah itu bagi yang belum pernah menyaksikan pementasannya menjadi sulit dimengerti.

Dalam membuat naskah teater saya merasa tak pernah mendapat hambatan. Sensor dan batasan dari berbagai aspek di sekitar saya adalah tantangan, adalah kesempatan yang justru menolong saya mampu melompat. Pengalaman dalam mengelak, menyiasati hambatan-hambatan itu, membuat saya percaya bahwa kreativitas membuat tak ada yang tak mungkin di atas pentas. Dengan cara memandang seperti itu, wilayah pentas adalah wilayah yang yang tak terbatas. Kita bebas mengekspresikan apa saja.

Selamat berkarya.

ankatan 2009/2010

Posted in Uncategorized on 31 Maret 2010 by teaterantariksa
organisasi teater antariksa angkatan 2009/2010

foto angkatan

ANTARIKSA…….

teater antariksa adalah sebuah organisasi teater SMA yang kini sedang aktif bergelut dalam bidang seni teater di kalangan SMA khususnya..
baru-baru ini mereka membuat foto angkatan yang tiap tahunnya wajib dilakukan. Teater Antariksa diketuai oleh Ngurah Dwiky Abadi Resta dengan Wakil ketua Aulia Erzha bekerja sama untuk membangkitkan dan membangunkan nama teater ini beserta anggota-anggotanya.. Teater Antariksa berencana akan mengadakan celebration ulang tahunnya yang ke 14.. kita tunggu aksi nya.. akan diberi tahu lebih lanjut….

ANTARIKSA..KEY

Hello world!

Posted in Uncategorized on 28 Februari 2010 by teaterantariksa

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!